Insomnia akhirnya buka file-file lamaa... yay!gw posting ini aja lah yaa, kali aja ntar da yg butuh.. hahai!
| Laporan Praktikum Teknologi Pengolahan Pakan | Hari/Tanggal : Rabu, 15 Juni 2011 Tempat Praktikum : Laboratorium Industri Pakan |
| | |
Pembuatan dan Evaluasi Silase
Kelompok 3/G3
Yayang Siti Aisyah
D24080156
![]() |
| as usual ini logo gebukan kasur |
DEPARTEMEN ILMU NUTRISI DAN TEKNOLOGI PAKAN
FAKULTAS PETERNAKAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2011
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Hijauan merupakan salah satu sumber pakan utama bagi ruminansia. Perlu dilakukan pengolahan untuk meningkatkan kualitas nutrisi dan daya cerna hijauan sebagai sumber. Pengolahan ini dapat berupa proses fermentasi. Teknologi fermentasi pada pengolahan pakan yang umum digunakan adalah pembuatan silase baik untuk hijauan rumput-rumputan, leguminosa atau sumber serat lainnya seperti jerami dan daun sawit.
Pengolahan pada hijauan terdiri dari pengolahan biologis dan kimiawi. Pengolahan biologis pada hijauan atau sumber serat umumnya dilakukan dengan cara memfermentasikan bahan tersebut dalam keadaan anaerob pada waktu tertentu. Untuk meningkatkan kualitas produk hasil fermentasi pada hijauan sering ditambahkan bahan pemicu atau penghambat fermentasi baik berupa bahan kimia seperti asam dan alkali maupun zat aditif mikrobiologis. Bahan kimia yang sering digunakan adalah asam format dan NaOH, sedangkan bahan mikrobiologis umumnya adalah jamur dan bakteri atau enzim yang dihasilkan dari kedua komponen mikrobiologis tersebut.
Tujuan
Praktikum ini bertujuan yaitu untuk mengetahui cara pembuatan silase berbahan rumput gajah dan konsentrat (jerami, ampas tahu, dedak, dan ransum komplit) serta dengan penambahan berbagai macam asam (asam format dan propionat), basa (NaOH), enzim (Hemiselulase padat dan cair), dan urea.
TINJAUAN PUSTAKA
Silase
Silase adalah suatu hasil pengawetan dari suatu bahan dalam suasana asam dalam kondisi anaerob (Ensminger, 1990). Silase merupakan bahan pakan yang diproduksi secara fermentasi, yaitu dengan cara pencapaian kondisi anaerob (McDonald et al., 1991). Ensilase adalah nama dari proses pembuatannya dan silo nama tempat terjadinya (Sapienza dan Bolsen, 1993). Untuk meningkatkan kualitas silase, ditambahkan bahan aditif yang dibagi dua yaitu sebagai stimulan fermentasi dan inhibitor fermentasi. Stimulan fermentasi bekerja membantu pertumbuhan bakteri asam laktat sehingga kondisi asam segera tercapai, contoh inokulan bakteri yaitu bakteri asam laktat yang berfungsi untuk meningkatkan populasi bakteri asam laktat dalam bahan pakan, sedangkan inhibitor fermentasi digunakan untuk menghambat pertumbuhan mikroorganisme pembusuk seperti Clostridia sehingga pakan bisa awet, sebagai contoh yaitu asam-asam organik seperti asam format, propionate, laktat (McDonald et al., 1991).
Salah satu penambahan zat aditif sebagai stimulant fermentasi yaitu bakteri asam laktat seperti Lactobacillus plantarum, Pediococcus pentosamonas, silase tersebut dinamakan silase laktat. Silase laktat dapat didefinisikan dari karakteristik fermentasinya yang ditunjukkan dengan pH rendah (mendekati 3,7-4,2), mengandung asam laktat dengan konsentrasi cukup tinggi (sekitar 8-12%) dan hanya sedikit mengandung asam format, asetat, propionat dan butirat.
Prinsip Dasar Silase
Silase adalah makanan ternak yang dihasilkan melalui proses fermentasi hijauan dengan kandungan uap air yang tinggi. Pembuatan silase tidak tergantung kepada musim jika dibandingkan dengan pembuatan hay yang tergantung pada musim (Sapienza dan Bolsen, 1993).
Keberhasilan pembuatan silase berarti memaksimalkan nutrien yang dapat diawetkan. Silase yang baik diperoleh dengan menekan berbagai aktivitas enzim yang berada dalam tanaman dan yang tidak dikehendaki serta mendorong berkembangnya bakteri asam laktat (Sapienza dan Bolsen, 1993). Mikroba yang tidak diinginkan bersaing menggunakan karbohidrat yang terlarut dengan bakteri penghasil asam laktat sehingga hasil akhir metabolismenya tidak menghasilkan bahan-bahan yang bersifat mengawetkan. Silase yang baik mempunyai cirri-ciri yaitu rasa dan bau asam, warna masih hijau, tekstur hijauan masih jelas, tidak berjamur atau berlendir, banyak asam laktat, kadar ammonia rendah (kurang dari 10%), tidak mengandung asam butirat dan pH rendah dengan kisaran 3,5-4 (Aksi Agraris Kanisius, 1983).
Proses pembuatan silase secara garis besar terdiri atas empat fase : (1) fase aerob; (2) fase fermentasi; (3) fase stabil dan (4) fase pengeluaran untuk diberikan kepada ternak. Setiap fase mempunyai ciri-ciri khas yang sebaiknya diketahui agar kualitas hijauan sejak dipanen, pengisian ke dalam silo, penyimpanan dan periode pemberian pada ternak dapat dipelihara dengan baik agar tidak terjadi penurunan kualitas hijauan tersebut (Sapienza dan Bolsen, 1993).
Bakteri Asam Laktat
Bakteri asam laktat (BAL) sangat dibutuhkan untuk menghasilkan silase yang berkualitas baik. Bila bakteri ini terlibat dalam proses ensilase, maka akan terjadi fermentasi asam laktat. Jenis bakteri asam laktat yang bekerja dalam fermentasi termasuk genus Lactobacillus, Streptococcus, Leuconostoc, Pediococcus. Genus-genus ini dikelompokkan menjadi dua golongan berdasarkan produk akhir fermentasinya yaitu bakteri homofermentatif dan heterofermentatif (Ross, 1984).
Bakteri asam laktat (BAL) ini selalu ditemukan pada hijauan bagian luar tetapi peranannya belum dapat diketahui dengan jelas. Diduga keberadaan BAL ini dalam tanaman untuk melindungi tanaman dari serangan pathogenik mikroorganisme dengan memproduksi antagonistik komponen seperti beberapa asam, bakteriosin dan agen anti-fungal. Hal ini mungkin ada benarnya setelah ditemukan BAL dalam jumlah yang banyak pada bagian tanaman yang rusak (Bolsen, 1985).
Keberhasilan pembuatan silase tergantung dari besarnya populasi bakteri asam laktat, sifat fisik antara lain karbohidrat, temperatur, pH dan juga perbandingan antara sumber karbohidrat dan protein. Kadar air bahan untuk pembuatan silase sebaiknya berkisar dari 65 - 75% (Bolsen, 1985). Bila kadar air lebih rendah dari 65%, keadaan anaerob sukar dicapai sehingga jamur akan tumbuh. Namun bila kadar air lebih dari 75%, Clostridia dapat berkembang biak sehingga banyak dihasilkan asam butirat dan senyawa-senyawa nitrogen yang terlarut yang akan menurunkan kandungan nutrisi yang dihasilkan. Untuk mencapai kadar air yang dianjurkan perlu dilakukan pelayuan dahulu sebelum bahan dibuat silase.
Asam Format
Asam format adalah jenis asam karboksilat yang paling sederhana. Asam format secara alami terdapat antara lain pada sengat lebah dan semut. Asam format juga merupakan senyawa intermediet atau senyawa antara yang penting dalam banyak sintesis kimia. Rumus kimia asam format dapat dituliskan sebagai HCOOH atau CH2O2. Asam format ditemukan secara alami pada sengatan dan gigitan banyak serangga dari ordo Hymenoptera, misalnya lebah dan semut. Asam format juga merupakan hasil pembakaran yang signifikan dari bahan bakar alternatif, yaitu pembakaran metanol (dan etanol yang tercampur air), jika dicampurkan dengan bensin. Nama asam format berasal dari kata Latin formica yang berarti semut. Pada awalnya, senyawa ini diisolasi melalui distilasi semut. Senyawa kimia turunan asam format, misalnya kelompok garam dan ester, dinamakan format atau metanoat. Ion format memiliki rumus kimia HCOO−.
Rumput Gajah
Rumput gajah dimanfaatkan terutama sebagai hijauan makanan ternak bagi ruminansia. Rumput ini merupakan rumput unggul yang banyak dibudidayakan dan baik untuk makanan ternak karena mudah diusahakan, produksi dan nilai gizinya tinggi serta mempunyai palatabilitas yang tinggi (Lubis, 1963). Pada umumnya diberikan sebagai rumput potongan dalam keadaan segar atau sebagai silase. Kualitas rumput gajah sebagai hijauan makanan ternak terutama dipengaruhi oleh rasio batang dan daun serta umur tanaman (Mannetje dan Jones, 1992). Nilai kecernaan daun yang masih muda sekitar 70% tetapi dapat menurun dengan cepat seiring dengan bertambahnya umur tanaman sehingga mempunyai nilai kecernaan dibawah 55%. Produksi berat kering rumput gajah setiap tahunnya berkisar 2 – 10 ton/ha dengan pemberian pupuk N dan P dapat ditingkatkan mencapai 16 – 40 ton/ha.
Ransum Komplit
Ransum komplit adalah ransum yang cukup kandungan gizinya untuk hewan tertentu dalam tingkat fisiologi tertentu, dibentuk atau dicampur untuk diberikan sebagai satu-satunya ransum dan mampu memenuhi kebutuhan hidup pokok dan produksi tanpa tambahan bahan lain kecuali air (Tillman et al., 1997). Schroeder and Park (1997) menyatakan bahwa ransum komplit dibuat dari campuran ransum total yang terbentuk dengan menimbang dan memadukan semua bahan-bahan pakan yang dapat menyediakan kecukupan zat makanan yang dibutuhkan oleh ternak. Setiap bagian yang dikonsumsi dapat menyediakan nutrisi (energi, protein, serat, mieral dan vitamin) yang dibutuhkan oleh ternak.
Jerami
Limbah pertanian mempunyai potensi yang sangat besar dalam memenuhi kebutuhan pakan hijauan di Indonesia dan jerami padi merupakan limbah yang paling banyak, yaitu sekitar 48% dari seluruh produksi limbah pertanian. Meskipun demikian, pemanfaatan jerami padi untuk pakan ternak ruminansia masih sangat terbatas, yaitu 31-39%, sedangkan 36-62% dibakar atau dikembalikan ke tanah sebagai kompos, dan sisanya antara 7-16% untuk keperluan industry (Komar, 1984).
Produksi jerami padi dapat diestimasikan dari produksi buah padi (=gabah), yaitu imbangan antara buah padi : jerami padi sangat bervariasi antara 1 : 0,90 sampai 1 : 1,34 tetapi umumnya imbangan tersebut sebesar 1 : 1 (Doyle et al., 1986). Selanjutnya bagian-bagian jerami padi dapat dibedakan menjadi helai daun (HD), pelepah daun (PD), dan batang (Bt). Batang dapat dibagi menjadi ruas (R) dan buku (Bk), tetapi Bk relatif tidak penting karena proporsinya sangat kecil. Oleh karena itu, bagian jerami padi yang utama adalah HD, PD, dan R serta proporsinya bervariasi, berturut-turut sebesar 15-27%, 23-30%, dan 16-37% (Neilson dan Stone, 1987; Soejono, 1996).
Kendala utama penggunaan limbah pertanian pada umumnya dan jerami padi pada khususnya sebagai pakan ternak ruminansia adalah tingginya kadar serat (selulosa, hemiselulosa, dan lignin) dan silika yang merupakan komponen penyusun dinding sel tanaman. Di samping itu kadar protein kasarnya rendah dan konsumsinya menjadi terbatas (Singh et al., 1993).
Pollard
Pollard merupakan hasil sampingan dari penggilingan gandum yang mempunyai kandungan serat dan protein tinggi. Kandungan serat yang terkandung dalam pollard cukup tinggi sehingga pollard dapat digunakan sebagai bahan makanan ternak (Phang, 2001). Pollard adalah bahan pakan sumber energi yang kaya akan niacin dan tiamin serta mempunyai kualitas dan pallatabilitas yang tinggi. Sehingga dapat dikatakan bahwa pollard dapat dijadikan sebagai bahan pakan yang popular dan penting (Sofyan, 2000). Pollard mengandung pati sebesar 30%. Pati ini menyebabkan water soluble carbohydrate (WSC) yang bisa memacu pertumbuhan bakteri asam laktat selama fermentasi berlangsung sehingga akan menghasilkan silase yang baik (Slominski et al., 2004).
Ampas Tahu
Ampas tahu merupakan limbah bentuk padatan dari bubur kedelai yang diperas dan tidak dipergunakan lagi dalam pembuatan tahu (Departemen Perindustrian Bogor, 1981). Ampas tahu merupakan bahan makanan ternak dengan kandungan protein yang cukup tinggi, yaitu 27 % (Prabowo et al., 1983). Pabrik-pabrik tahu biasanya menghasilkan ampas tahu basah/segar sekitar 100-125 % dari kacang kedelai yang dipergunakan (Departemen Perindustrian Bogor, 1981).
Limbah kedelai seperti ampas tahu dan bungkil masih mengandung protein cukup dan dipergunakan sebagai makanan ternak seperti babi, sapi, unggas dan ikan. Kandungan gizi dari ampas tahu masih sangat tinggi, meskipun tidak setinggi gizi bungkil atau tepung kedelai. Kandungan air ampas tahu masih sangat tinggi, hal ini merupakan penghambat digunaknnya ampas tahu sebagai makanan ternak (Indomedia, 1997).
NaOH
Pengolahan limbah pertanian dan pakan kasar lainnya dengan NaOH telah banyak ditinggalkan. NaOH merupakan alkali yang paling kuat dengan mendegradasi struktur dinding sel. Perlakuan alkali dapat meningkatkan kelarutan hemiselulosa dan mengurangi kandungan dinding sel. Beberapa metode pengolahan NaOH terhadap pakan kasar tercantum pada tabel 1.
| Pelakuan | Prosedur Perlakuan | Kondisi Optimum |
| Cara Basah | 1.Perendaman bahan dalam larutan NaOH, diikuti dengan pembilasan. | 1,5-2,5% larutan NaOH, direndam selama 12 jam, dibilas dengan larutan netral. |
| | 2.Perendaman bahan dalam larutan NaOH, tanpa pembilasan, tapi disimpan. | 1,5% larutan NaOH direndam selama 0,5-1 jam dan disimpan selama 6 hari. |
| | 3.Bahan disemprot dengan larutan NaOH dalam suatu ruang. | 5,5 kg NaOH, disimpan selama 12 jam. |
| Setengah Basah | Bahan direndam dengan larutan NaOH di dalam silo. | 40-70% kadar air, 3-5% NaOH, min. direndam 1 minggu. |
| Cara kering | 1.Bahan digiling menjadi halus dan dicampur dengan larutan NaOH konsentrasi tinggi. | Larutan 27-47% NaOH. Tekanan di atas 100 atm, temperatur 70-90o C. |
| | 2.Bahan di potong dan disemprot dengan larutan NaOH. | 425 kg larutan NaOH 16% setiap ton bahan. |
Dewasa ini perlakuan dengan NaOH sudah banyak ditinggalkan karena pengolahan dengan NaOH menimbulkan kerugian antara lain: kation Na+ dalam jumlah banyak bersifat racun bagi ternak, menimbulkan polusi tanah dan lingkungan, residu NaOH di dalam saluran pencernaan dapat bersifat rancun bagi ternak serta harganya mahal dan sulit diperoleh (Murni et al., 2008).
Jerami Fermentasi dengan urea
Jerami adalah tanaman padi yang diambil bauhnya (gabahnya), sehingga tinggal batang dan daunnya yang merupakan limbah pertanian serta belum sepenuhnya dimanfaatkan karena adanya faktor teknis dan ekonomis. Jerami (padi) selama ini hanya dikenal sebagai hasil ikutan dalam proses produksi padi di sawah.
Pada sebagian petani, jerami padi sering digunakan sebagai mulsa pada saat penanaman palawija. Hanya sebagian kecil petani menggunakan jerami sebagai pakan alternative di kala musim kering karena sulitnya mendapatkan hijauan. Di lain pihak jerami sebagai limbah alternatif di kala musim kering karena sulitnya mendapatkan hijauan. Di lain pihak jerami sebagai limbah pertanian, sering menjadi permasalahan bagi petani, sehingga sering dibakar untuk mengatasi masalah tersebut.
Produksi jerami padi dapat mencapai 12-15 ton per hektar per panen, bervariasi tergantung pada lokasi dan jenis varietas tanaman padi yang digunakan. Jerami padi yang dihasilkan dapat digunakan sebagai pakan sapi dewasa sebanyak 2-3 ekor sepanjang tahun dan pada lokasi yang mampu panen 2 kali setahun akan dapat menunjang kebutuhan pakan berserat untuk 4-6 ekor.
Komposisi kimia jerami padi meliputi bahan kering 71,2%, protein kasar 3,9%, lemak kasar 28,8% BETN 37,1%, dan TDN 40,2%. Hanya saja yang menjadi faktor pembatas adalah nilai gizinya yang rendah yaitu mengandung serat kasar dan silikat dan kutin. Namun demikian manfaat manfaat jerami padi masih dapat ditingkatkan melalui proses kimia atau dengan teknologi pengolahan sehingga dapat ditingkatkan efektifitas daya cerna oleh enzim mikrokutin. Salah satu cara yang dianggap paling efektif adalah melalui jalan fermentasi (Purnama dan Taufikurahman, 2000).
Proses fermentasi jerami berbeda dengan amoniasi yang merupakan proses perombakan dari struktur keras menjadi struktur yang lebih lunak. Dengan demikian yang berubah dalam proses amoniasi hanyalah struktur fisiknya saja dan penambahan unsur N. Sedangkan fermentasi jerami merupakan proses perombakan struktur keras secara fisik, kimia, dan biologi, sehingga bahan dengan struktur yang kompleks akan berubah menjadi lebih sederhana, dan hal tersebut menyebabkan daya cerna ternak menjadi efisien.
Dedak
Dedak padi merupakan hasil samping poses penggilingan padi yag terdiri dari lapisan dedak sebelah luar butir padi, dan sebagian lembaga biji (Houston, 1972). Sedangkan menurut Soemardi (1975) pengertian dedak padi adalah bagian luar dari butiran beras setelah kulit dan kulit ari dihilangkan dalam proses penyosohan beras pecah kulit (brown rice) menjadi beras. Produk hasil penggilingan gabah menjadi beras giling dengan menggunakan mesin giling kerucut bercakram (besar).
Menurut Ciptadi dan Nasution (1985) dedak merupakan sisa dari penggilingan padi, tersusun dari tiga bagian dengan andungan zat yang berbeda, yaitu kulit gabah atau sekam yang banyak mengandung serat kasar dan mineral, selaput putih yang kaya akan protein, vitamin B1, lemak serta mineral dan bahan pati yang sebagian besar terdiri dari karbohidrat yang mudah diccerna.
Padi yang ditumbuk atau digiling dengan mesin penggiling yang sederhana akan menghasilkan campuran dedak dan sekam sebagai hasil sampingannya. Sedangakan penggilaingan padi dengan mesin modern akan dapat memisahkan dedak dengan sekam, walaupun masih terdapat sedikit kontaminasi sekam dalam dedak, yang menurunkan nilai gizi dedak tersebut (Houston, 1972).
Menurut Soemardi (1975), rendemen dedak dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain derajat penyosohan, derajat masak padi atau gabah, kadar air gabah, jenis alat penyosohan, dan lubang alat pemisah. Rendemen dedak umumnya dinyatakan dalam persen berat yang dihitung dari beras yang dihasilkan. Rendemen dedak umumnya 15% dari berat beras yang dihasilkan.
Menurut Tangendjaja di dalam Soenarjo et al. (1991), dikatakan bahwa dilihat dari komposisi kimianya, dedak bisa merupakan sumber energi dan protein yang murah bagi ternak unggas sehingga dapat menggantikan bahan yang lebih mahal seperti jagung. Cara lain untuk melihat potensi dedak adalah dengan mengukur nilai energi metabolisme dedak bervariasi antara 1800-3400 kkal/kg yang diduga akibat perbedaan kualitas dedak atau klasifikasi dedak dari berbagai penggilingan. Hasil analisa untuk dedak yang diperoleh di Indonesia menunjukan nilai 2400-2700 kkal/kg.
Menurut Tangendjaja di dalam Soenarjo et al. (1991), melalui komunikasi pribadinya dengan Creswell dikatakan bahwa pembuatan silse dedak dapat menghambat ketengikan minyak karena hidrolisisnya oleh enzim. Penelitian baru-baru ini menunjukan penambahan air sampai mencapai sekitar 50% bahan kering ke dalam dedak dan disimpan dalam keadaan tertutup rapat, dapat menghambat ketengikan selama penyimpanan dua minggu sehingga kadar asam lemak bebas kurang dari 20%.
MATERI DAN METODE
Materi
Praktikum ini dilakukan di Laboratorium Industri Pakan, Laboratorium Lapang, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor. Adapun alat yang digunakan yaitu pipet volumetrik, bulp, ember, timbangan, karung, sekop, silo, dan pH meter. Sedangkan bahan yang dibutuhkan antara lain rumput gajah, asam format, jerami padi, dedak, enzim hemiselulase cair dan padat, ramsum komplit, NaOH, urea, dan ampas tahu.
Metode
Pada praktikum pembuatan silase dibuat empat jenis silase dengan komposisi yang berbeda yaitu :
1. Silase Perlakuan A (Jerami padi dan NaOH)
Komposisi silase pertama antara lain jerami padi dengan penambahan NaOH. Alat yang diperlukan dalam pembuatan silase ini antara lain sekop untuk mengaduk dan silo untuk menyimpan silase.
Proses pembuatan silase :
Pertama jerami padi ditimbang sebanyak 50 kg, kemudian ditambahkan larutan NaOH 500 gram yang diencerkan dengan 10 liter air, dan diaduk sampai homogen. Silo disiapkan kemudian campuran dimasukkan ke dalam silo. Proses pemasukan ke dalam silo sedikit demi sedikit dan diikuti dengan pemadatan. Setelah itu silo ditutup dengan rapat sampai tidak ada udara yang masuk, kemudian silase disimpan selama tiga minggu. Setelah tiga minggu silase dibuka dan diamati sifat fisiknya.
2. Silase Perlakuan B (Jerami padi dan Urea)
Komposisi silase kedua antara lain jerami padi dengan penambahan urea. Alat yang diperlukan dalam pembuatan silase ini antara lain sekop untuk mengaduk dan silo untuk menyimpan silase.
Proses pembuatan silase :
Pertama jerami padi ditimbang sebanyak 50 kg, kemudian ditambahkan larutan urea 500 gram yang diencerkan dengan 10 liter air, dan diaduk sampai homogen. Silo disiapkan kemudian campuran dimasukkan ke dalam silo. Proses pemasukan ke dalam silo sedikit demi sedikit dan diikuti dengan pemadatan. Setelah itu silo ditutup dengan rapat sampai tidak ada udara yang masuk, kemudian silase disimpan selama tiga minggu. Setelah tiga minggu silase dibuka dan diamati sifat fisiknya.
3. Silase Perlakuan C (Rumput dan Enzim Hemiselulase Cair)
Komposisi silase ketiga antara lain rumput gajah dengan penambahan enzim hemiselulse cair. Alat yang diperlukan dalam pembuatan silase ini antara lain sekop untuk mengaduk dan silo untuk menyimpan silase.
o Proses pembuatan silase :
Pertama rumput ditimbang sebanyak 100 kg dan ditebar dilantai, kemudian dicampur dengan enzim hemiselulse cair sebanyak 10 ml dan diaduk sampai homogen. Silo disiapkan kemudian campuran tersebut dimasukkan ke dalam silo. Proses pemasukan ke dalam silo sedikit demi sedikit dan diikuti dengan pemadatan. Setelah itu silo ditutup dengan rapat sampai tidak ada udara yang masuk, kemudian silase disimpan selama tiga minggu. Setelah tiga minggu silase dibuka dan diamati sifat fisiknya.
4. Silase Perlakuan D (Rumput dan Enzim Hemiselulase Padat)
Komposisi silase keempat antara lain rumput gajah dengan penambahan enzim hemiselulase padat. Alat yang diperlukan dalam pembuatan silase ini antara lain sekop untuk mengaduk dan silo untuk menyimpan silase.
o Proses pembuatan silase :
Pertama rumput ditimbang sebanyak 100 kg dan ditebar dilantai, kemudian dicampur dengan enzim hemiselulse padat sebanyak 10 ml dan diaduk sampai homogen. Silo disiapkan kemudian campuran tersebut dimasukkan ke dalam silo. Proses pemasukan ke dalam silo sedikit demi sedikit dan diikuti dengan pemadatan. Setelah itu silo ditutup dengan rapat sampai tidak ada udara yang masuk, kemudian silase disimpan selama tiga minggu. Setelah tiga minggu silase dibuka dan diamati sifat fisiknya.
5. Silase Perlakuan E (Rumput dan Ransum Komplit)
Komposisi silase kelima antara lain rumput gajah dengan penambahan ransum komplit. Alat yang diperlukan dalam pembuatan silase ini antara lain sekop untuk mengaduk dan silo untuk menyimpan silase.
o Proses pembuatan silase :
Pertama rumput ditimbang sebanyak 100 kg dan ditebar dilantai, kemudian dicampur dengan ransum komplit sebanyak 20 kg, dan diaduk sampai homogen. Silo disiapkan kemudian campuran tersebut dimasukkan ke dalam silo. Proses pemasukan ke dalam silo sedikit demi sedikit dan diikuti dengan pemadatan. Setelah itu silo ditutup dengan rapat sampai tidak ada udara yang masuk, kemudian silase disimpan selama tiga. Setelah tiga minggu silase dibuka dan diamati sifat fisiknya.
6. Silase Perlakuan F (Rumput, Ransum Komplit, dan Ampas Tahu)
Komposisi silase keenam antara lain rumput gajah dengan penambahan ransum komplit dan ampas tahu. Alat yang diperlukan dalam pembuatan silase ini antara lain sekop untuk mengaduk dan silo untuk menyimpan silase.
o Proses pembuatan silase :
Pertama rumput ditimbang sebanyak 100 kg dan ditebar dilantai, kemudian dicampur dengan ransum komplit sebanyak 5 kg dan ampas tahu sebanyak 15 kg, kemudian diaduk sampai homogen. Silo disiapkan kemudian campuran tersebut dimasukkan ke dalam silo. Proses pemasukan ke dalam silo sedikit demi sedikit dan diikuti dengan pemadatan. Setelah itu silo ditutup dengan rapat sampai tidak ada udara yang masuk, kemudian silase disimpan selama tiga minggu. Setelah tiga minggu silase dibuka dan diamati sifat fisiknya.
7. Silase Perlakuan G (Rumput dan Asam Format)
Komposisi silase ketujuh terdiri dari rumput gajah dan penambahan asam format. Alat yang diperlukan dalam pembuatan silase ini antara lain sekop untuk mengaduk dan silo untuk menyimpan silase.
o Proses pembuatan silase :
Pertama rumput ditimbang sebanyak 50 kg dan rumput ditebar dilantai, kemudian diteteskan asam format sebanyak 0,03% dari bobot rumput dan dihomogenkan. Silo disiapkan kemudian campuran rumput dan asam format dimasukkan ke dalam silo. Proses pemasukan ke dalam silo sedikit demi sedikit dan diikuti dengan pemadatan. Setelah itu silo ditutup dengan rapat sampai tidak ada udara yang masuk, kemudian silase disimpan selama tiga minggu. Setelah tiga minggu silase dibuka dan diamati sifat fisiknya.
8. Silase Perlakuan H (Rumput dan Asam Propionat)
Komposisi silase kedelapan terdiri dari rumput gajah dan penambahan asam propionat. Alat yang diperlukan dalam pembuatan silase ini antara lain sekop untuk mengaduk dan silo untuk menyimpan silase.
o Proses pembuatan silase :
Pertama rumput ditimbang sebanyak 50 kg dan rumput ditebar dilantai, kemudian diteteskan asam propionat sebanyak 0,03% dari bobot rumput dan dihomogenkan. Silo disiapkan kemudian campuran rumput dan propionat dimasukkan ke dalam silo. Proses pemasukan ke dalam silo sedikit demi sedikit dan diikuti dengan pemadatan. Setelah itu silo ditutup dengan rapat sampai tidak ada udara yang masuk, kemudian silase disimpan selama tiga minggu. Setelah tiga minggu silase dibuka dan diamati sifat fisiknya.
9. Silase Perlakuan I (Rumput dan Dedak)
Komposisi silase kesembilan antara lain rumput gajah dengan penambahan dedak. Alat yang diperlukan dalam pembuatan silase ini antara lain sekop untuk mengaduk dan silo untuk menyimpan silase.
o Proses pembuatan silase :
Pertama rumput ditimbang sebanyak 100 kg dan ditebar dilantai, kemudian dicampur dengan dedak sebanyak 10 kg dan diaduk sampai homogen. Silo disiapkan kemudian campuran tersebut dimasukkan ke dalam silo. Proses pemasukan ke dalam silo sedikit demi sedikit dan diikuti dengan pemadatan. Setelah itu silo ditutup dengan rapat sampai tidak ada udara yang masuk, kemudian silase disimpan selama tiga minggu. Setelah tiga minggu silase dibuka dan diamati sifat fisiknya.
10. Silase Perlakuan J (Rumput dan Pollard)
Komposisi silase kesepuluh antara lain rumput gajah dengan penambahan pollard. Alat yang diperlukan dalam pembuatan silase ini antara lain sekop untuk mengaduk dan silo untuk menyimpan silase.
o Proses pembuatan silase :
Pertama rumput ditimbang sebanyak 100 kg dan ditebar dilantai, kemudian dicampur dengan pollard sebanyak 10 kg dan diaduk sampai homogen. Silo disiapkan kemudian campuran tersebut dimasukkan ke dalam silo. Proses pemasukan ke dalam silo sedikit demi sedikit dan diikuti dengan pemadatan. Setelah itu silo ditutup dengan rapat sampai tidak ada udara yang masuk, kemudian silase disimpan selama tiga minggu. Setelah tiga minggu silase dibuka dan diamati sifat fisiknya.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil
1. Jerami 50 kg + NaOH 500gr diencerkan dengan 10 L air
| Tekstur | Agak kasar |
| Bau | Wangi khas silase |
| Warna | Kuning kecoklatan |
| pH | - |
| Kondisi | Sedikit basah |
2. Jerami 50 kg + urea 500 gr diencerkan dengan 10 L air
| Tekstur | Lunak (tidak hancur) |
| Bau | Khas jerami (agak menusuk) |
| Warna | Hijau kekuningan |
| pH | 6,4 |
| Kondisi | Basah ,jamur 3% |
3. Rumput 100 kg + Enzim hemiselulase cair 10 ml
| Tekstur | Sangat lembek |
| Bau | Agak busuk |
| Warna | Hijau |
| pH | 5,0 |
| Kondisi | Basah |
4. Rumput 100 kg + Enzim hemiselulase padat 10 ml
| Tekstur | Sangat lembek |
| Bau | Asam menyengat |
| Warna | Hijau kecoklatan |
| pH | 5,14 |
| Kondisi | Basah |
5. Rumput 100 kg + ransum komplit 20kg
| Tekstur | Agak lembek |
| Bau | Asam pakan |
| Warna | Hijau kecoklatan |
| pH | 4,7 |
| Kondisi | Sedikit basah |
6. Rumput 100 kg + ransum komplit 5kg + ampas tahu 15 kg
| Tekstur | Agak lembek |
| Bau | Asam menyengat |
| Warna | Hijau kekuningan |
| pH | 4,82 |
| Kondisi | Sedikit basah |
7. Rumput 100 kg + Asam Format
| Tekstur | Kasar |
| Bau | Bau busuk |
| Warna | Hijau gelap |
| pH | 5,96 |
| Kondisi | Basah |
8. Rumput 100 kg + asam propionate 0,03% bobot rumput
| Tekstur | Agak kasar |
| Bau | Asam |
| Warna | Hijau kecoklatan |
| pH | 5,54 |
| Kondisi | Basah |
9. Rumput 100 kg + Dedak
| Tekstur | Agak kasar |
| Bau | Wangi silase |
| Warna | Hijau kekuningan |
| pH | 5,01 |
| Kondisi | Basah |
10. Rumput 100 kg + pollard
| Tekstur | Halus |
| Bau | Harum silase |
| Warna | Hijau kecoklatan |
| pH | 4,11 |
| Kondisi | Basah |
Pembahasan
Ketersediaan pakan merupakan salah satu faktor penting dalam menentukan keberhasilan suatu peternakan. Untuk menjaga ketersediaan pakan ini terdapat beberapa cara, salah satunya dengan pembuatan silase. Silase adalah suatu hasil pengawetan dari suatu bahan dalam suasana asam dalam kondisi anaerob (Ensminger, 1990). Suasana asam dapat diperoleh secara kimia dengan menambahkan asam-asam mineral atau asam-asam organik atau campuran dari keduanya (Sukarsa et al., 1985). Dalam meningkatkan kualitas silase dapat dilakukan penambahan zat aditif yang secara umum dapat dibagi menjadi dua jenis, yaitu sebagai stimulan fermentasi dan inhibitor fermentasi. Sebagai stimulan fermentasi dapat ditambahkan bakteri asam laktat yang berfungsi untuk meningkatkan populasi bakteri asam laktat dalam bahan pakan. Pada inhibitor fermentasi digunakan untuk menghambat pertumbuhan mikroorganisme pembusuk seperti Clostridia sehingga pakan bisa awet, sebagai contoh yaitu asam-asam organik seperti asam format, propionat, laktat (McDonald et al., 1991).
Pada praktikum ini dilakukan penambahan silase dengan asam format atau asam propionat yang berfungsi menghambat pertumbuhan mikroorganisme pembusuk. Penambahan asam ini akan menimbulkan suasana asam, jika hal ini terjadi bakteri pembusuk tidak akan tumbuh dikarenakan pada umumnya bakteri pembusuk tidak toleran terhadap suasana asam. Selain penambahan asam pada praktikum ini juga dilakukan penambahan basa yaitu NaOH dengan tujuan meningkatkan kelarutan hemiselulosa dan mengurangi kandungan dinding sel. Penambahan pollard, ampas tahu, dan ransum komplit merupakan salah satu usaha dalam meningkatkan protein silase, dan penambahan dedak padi bertujuan untuk menghilangkan ketengikan minyak dan meningkatkan energy dan protein. Penambahan urea pada jerami berguna untuk proses perombakan struktur keras secara fisik, kimia, dan biologi, sehingga bahan dengan struktur yang kompleks akan berubah menjadi lebih sederhana, dan hal tersebut menyebabkan daya cerna ternak menjadi efisien.
Setelah dilakukan uji fisik silase dengan masing-masing perlakuan, diperoleh hasil secara keseluruhan silase dalam keadaan tidak baik (jelek). Uji fisik yang dilakukan diantaranya uji aroma/bau, warna, tekstur, dan pH. Hal ini ditunjukkan dari hasil pengujian yang tidak sesuai dengan standar silase yang baik, yaitu rasa dan bau asam, warna masih hijau, tekstur hijauan masih jelas, tidak berjamur atau berlendir pH rendah dengan kisaran 3,5-4 (Aksi Agraris Kanisius, 1983).Pada penambahan asam format didapatkan hasil dengan warna yang hijau gelap dan bau busuk. Selain itu pH dari silase yang busuk ini tinggi, yaitu 5,96 menunjukkan bahwa aktivitas Clostridia tinggi. Clostridia akan tumbuh dengan baik pada pH tinggi diatas 5. Kadar air yang lebih dari 75% menjadikan Clostridia dapat berkembang biak sehingga banyak dihasilkan asam butirat dan senyawa-senyawa nitrogen yang terlarut yang akan menurunkan kandungan nutrisi yang dihasilkan. Untuk mencapai kadar air yang dianjurkan perlu dilakukan pelayuan dahulu sebelum bahan dibuat silase.
Penambahan pollard, ampas tahu, dan ransum komplit untuk meningkatkan kualitas silase dengan maksud peningkatan kadar protein, serta penambahan dedak padi yang berguna untuk menghilangkan ketengikan yang dihasilkan di dedak dan meningkatkan energi serta protein pada silase. Penambahan ini termasuk dalam pemicu/stimulan proses silase. Pollard mengandung pati sebesar 30%. Pati ini menyebabkan water soluble carbohydrate (WSC) yang bisa memacu pertumbuhan bakteri asam laktat selama fermentasi berlangsung sehingga akan menghasilkan silase yang baik (Slominski et al., 2004). Begitu pula dengan ampas tahu dan ransum komplit yang mengandung protein dan karbohidrat tinggi. Mikroba yang tidak diinginkan bersaing menggunakan karbohidrat yang terlarut dengan bakteri penghasil asam laktat sehingga hasil akhir metabolismenya tidak menghasilkan bahan-bahan yang bersifat mengawetkan.
Pada perlakuan jerami digunakan penambahan urea karena komposisi kimia jerami padi meliputi bahan kering 71,2%, protein kasar 3,9%, lemak kasar 28,8% BETN 37,1%, dan TDN 40,2%. Hanya saja yang menjadi faktor pembatas adalah nilai gizinya yang rendah yaitu mengandung serat kasar dan silikat dan kutin. Namun demikian manfaat manfaat jerami padi masih dapat ditingkatkan melalui proses kimia atau dengan teknologi pengolahan sehingga dapat ditingkatkan efektifitas daya cerna oleh enzim mikrokutin. Salah satu cara yang dianggap paling efektif adalah melalui jalan fermentasi (Purnama dan Taufikurahman, 2000).
Kriteria agar suatu bakteri dapat digunakan sebagai inokulum silase antara lain tumbuh dengan cepat dan mampu berkompetisi serta mendominasi mikroorganisme yang lain, bersifat homofermentatif, toleran terhadap asam dan dapat menurunkan pH dengan cepat (McCullough, 1978). Menurut Wilkins (1988) silase yang baik bila memenuhi kriteria antara lain : pH maksimal 4,2, asam laktat 1,5 – 2,5%, asam asetat 0,5 – 0,8%, butirat < 0,1% dan N-amonia dari total N 5 – 8%, dengan kandungan N-amonia sebagai salah satu indikator keberhasilan silase.
KESIMPULAN
Silase adalah suatu hasil pengawetan dari suatu bahan dalam suasana asam dalam kondisi anaerob. Berdasarkan praktikum silase tidak ada perlakuan yang sesuai dengan standar yaitu pH di atas kisaran 3,5-4.
DAFTAR PUSTAKA
Aksi Agraris Kanisius. 1983. Hijauan Makanan Ternak Potong kerja dan perah. Penerbit Kanisius. Yogyakarta.
Bolsen, K. K. 1985. New Technology in Forage Conservation Feeding System. In: Proceeding of The XV International Grassland Kongress, Page 24-31.
Ciptadi, W dan Z. Nasution. 1985. Padi dan Pngolahannya. Agro Industri Press, Teknologi Industri Pertanian. Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Departemen Perindustrian Bogor. 1981. Laporan Studi Pengembangan Pengolahan Limbah Tahu. Kerjasama Fakultas Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor dengan Bimbingan dan Pembinaaan Industri Kecil, Bogor.
Doyle, P. T., C. Davendra and G. R. Pearce. 1986. Rice Straw as a Feed for Ruminants. Internasional Development Program of Australian Universities and Colleges Limited, Canberra.
Ensminger, M. E., I. E. Oldfield and W. W. Heinemann. 1990. Feeds and Nutrition. 2nd Ed. The Ensminger Publishing Company, California.
Houston, D. F. 1972. Rice Bran and Rice Polish In Houston D. F. (ed.). Rice Chemistry and Technology Am Ass of Cereal Chemistry, Inc., St. Paul, Minnesota.
Indomedia. 1997. Potensi dan Pemanfaatan Limbah Kedelai. http://www.indomedia. com/intisari/natasoya.html. [10 Juni 2011]
Komar, A. 1984. Teknologi Pengolahan Jerami sebagai Makanan Ternak. Yayasan Dian Grahita, Bandung.
Lubis, D.A. 1963. Ilmu makanan ternak. Cetakan ke-2. PT Pembangunan, Jakarta.
Mannetje, L. dan R.M. Jones. 1992. Forages. Plants Resources of South East Asia (Prosea). Bogor.
McCullough, M. E. 1978. Fermentage of Silage. A Review (National Feed Ingredient Association). Grants-In-Aid Committee, West Des Moines, IOWA.
McDonald, P., A. R. Henderson and S. J. E. Heron. 1991. The Biochemistry of Silage. 2nd Ed. Chalcombe Publication, Britain.
Murni, R., dkk. 2008. Buku Ajar Teknologi Pemanfaatan Limbah Untuk Pakan. Laboratorium Makanan Ternak. Fakultas Peternakan. Universitas Jambi.
Neilson, M. J. and B. J. Stone. 1987. Chemical composition of fibrous feeds for ruminants in relation to digestibility. In: T. F. Reardon, J. L. Adam, A. G. Campbell and R. M. W. Summer (Eds.). Proceedings of the 4th AAAR Animal Science Congress. Hamilton. Pp. 63-66.
Phang, L. 2001. Pemanfaatan bekatul, pollard dan jagung pada media tumbuh terhadap produksi tumbuh buah jamur shitake (Lenitula edodes) di dataran rendah ciomas, Bogor. Skripsi. Fakultas Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Prabowo, A., D. Samaih dan M. Rangkuti. 1983. Pemanfaatan ampas tahu sebagai makanan tambahan dalam usaha penggemukan domba potong. Proceeding Seminar Pemanfaatan Limbah Pangan dan Limbah Pertanian untuk Makanan Ternak. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Bandung.
Purnama, P dan P. N. Taufikkurrahman. 2000. Lembar Informasi Pertanian (Liptan) IP2TP Mataram No. 02/Liptan/2000. Instalasi Penelitian dan Pengkajian Teknologi Pertanian.
Ross, G. D. 1984. The Microbiology of Silage. Hawkesbury Agricultural Research Unit, New South Wales Departement of Agricultural, New Jersey.
Sapienza, D. A dan K. K. Bolsen. 1993. Teknologi Silase. Terjemahan : Martoyoedo RBS. Pioner-Hi-Berd International, Inc. Kansas State University, England.
Schroeder, J.W. and C.S.Park. 1997. Using a total mixed ration for dairy cows. North Dakota States University (NDSU). http: //www.ext.nodax.edu/expubs/ansci/dairy/as769w.htm. [6 Juni 2011].
Singh, K. And J. B. Schiere. 1993. Feeding of ruminants on fibrous crop residues-introductory comments. In: K. Singh and J. B. Schiere (Eds.). Feeding of Ruminants on Fibrous Crop Residues. ICAR, New Delhi. Pp. 2-4.
Slomonski, B. A., D. Boros, L. D. Campbell, W. Guanter, and O. Jones. 2004. Wheat by-products in poultry nutrition. Part I. Chemical and nutritive composition of wheat screenings, bakery by-products and wheat mill run. Can. J. Anim. Sci. 84 : 421-428.
Soemardi. 1975. Pendayagunaan Dedak. Seminar Teknologi Pangan ke II. Balai Penelitian Kimia. Departemen Perindustrian Bogor.
Sofyan, L.A. 2000. Pengetahuan Bahan Makanan Ternak. Fakultas Peternakan. Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Sukarsa, D. R., Rudy R. Nitibaskura, Ruddy Suwandi. 1985. Penelitian pengolahan silase ikan dengan proses biologis. Laporan Penelitian. Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor, Bogor .
Tangendjaja, B. 1991. Pemanfaatan Limbah Padi Untuk Pakan. Balai Penelitian Ternak Ciawi. Bogor.
Theander, O. and P. Aman. 1984. Anatomical and chemical characteristic. In: F. Sundstol and E. Owen (Eds.). Straw and Other Fibrous By-products as Feed. Developments in Anim. and Vet. Sciences. Elsevier. Amsterdam. Pp. 45-78.
Tillman, A., H. Hartadi, dan S. Reksoadiprodjo. 1997. Tabel Komposisi Bahan Makanan Ternak untuk Indonesia. Gajah Mada University Press., Yogyakarta.
Wilkins, R.J. 1988. The Preservation of forage In : Feed Science. Oskov (ed). Elsevier Science Publisher B.V. Amsterdam.

terimakasih... sangat bermanfaat sekali:)
BalasHapus